Cara Mendukung Teman yang Baru Masuk Islam

Temanmu baru saja bercerita bahwa dia masuk Islam, dan kamu ingin mendukungnya tapi tidak yakin caranya. Ini panduan yang praktis dan jujur untuk menjadi teman yang dia butuhkan sekarang.

Oleh Benjamin · · 7 menit baca

Temanmu Baru Saja Bercerita Bahwa Dia Masuk Islam

Mungkin dia mengajakmu duduk dan bercerita langsung. Mungkin kamu melihat perubahannya pelan-pelan: pakaiannya berbeda, dia menolak minuman beralkohol saat makan malam, dia menyebut-nyebut waktu sholat. Bagaimanapun kamu mengetahuinya, temanmu sekarang Muslim, dan mungkin kamu merasakan campuran berbagai perasaan: kaget, bingung, penasaran, bahkan mungkin khawatir. Semua perasaan itu wajar.

Kenyataan bahwa kamu membaca ini sudah menunjukkan banyak hal tentang dirimu. Artinya kamu peduli pada temanmu dan ingin bersikap baik kepadanya. Itu lebih berarti dari yang mungkin kamu sadari, karena masuk Islam, terutama di masyarakat Barat, bisa menjadi pengalaman yang membuat seseorang merasa terasing. Dukunganmu bisa sangat berarti baginya saat ini.

Apa Arti Masuk Islam Baginya

Pertama, akan membantu kalau kamu memahami apa arti masuk Islam dari sudut pandang temanmu. Bagi kebanyakan orang yang menjadi Muslim, ini bukan keputusan asal-asalan. Ini hasil dari berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun membaca, bertanya, merenung, dan mencari jati diri. Saat seseorang mengucapkan syahadat (pernyataan iman yang secara resmi menjadikan seseorang Muslim), biasanya dia sudah memikirkannya dengan sangat dalam.

Bagi temanmu, ini mungkin salah satu keputusan paling bermakna yang pernah dia buat. Ini bukan fase, bukan tren, dan bukan sesuatu yang dia lakukan karena dorongan sesaat. Ini seperti pulang secara spiritual. Dia menemukan sesuatu yang menyentuh dirinya di tingkat paling dalam, dan dia punya keberanian untuk mengikutinya. Memahami hal ini akan membantumu melihat semua hal lainnya.

Yang Sebaiknya Tidak Diucapkan

Kita bahas bagian yang sulit dulu. Ada beberapa reaksi umum yang, walaupun sering bermaksud baik, bisa menyakitkan atau terkesan meremehkan. Menyadarinya akan membantumu supaya tidak menyakiti tanpa sengaja.

  • "Kamu yakin?" Ini menyiratkan bahwa dia belum memikirkannya matang-matang, padahal hampir pasti sudah. Kemungkinan besar dia sudah bergulat lama dengan keputusan ini.
  • "Ada yang memaksamu, ya?" Ini menganggap dia tidak bisa memutuskan sendiri. Masuk Islam adalah keputusan yang sangat pribadi, dan menyiratkan sebaliknya itu meremehkan.
  • "Tapi dulu kamu suka banget [minum/pesta/dll.].": Orang bertumbuh dan nilai-nilainya berubah. Menyoroti apa yang dia tinggalkan, bukan apa yang dia dapatkan, terasa seperti kamu sedang menghitung-hitung.
  • "Kamu tidak harus pakai itu." atau "Kamu disuruh pakai itu?" Kalau temanmu mulai berhijab atau berpakaian lebih tertutup, mengomentarinya seolah-olah itu dipaksakan kepadanya berarti meremehkan pilihan dan kemandiriannya.
  • "Terus bagaimana dengan [isu politik]?" Jangan mencampuradukkan iman pribadi temanmu dengan geopolitik. Dia menjadi Muslim karena hubungan spiritual dengan Allah, bukan karena dia mendukung tindakan pemerintah atau kelompok mana pun.
  • "Aku cuma tidak mengerti kenapa.": Kamu tidak harus mengerti. Kamu cukup menghormati pilihannya. Pengertian bisa datang nanti, lewat obrolan yang tulus, kalau temanmu ingin bercerita.

Yang Bisa Kamu Ucapkan

Hal terbaik yang bisa kamu ucapkan itu sederhana dan datang dari rasa sayang dan hormat.

  • "Aku ikut senang untukmu.": Walaupun kamu punya banyak pertanyaan, memulai dengan rasa senang untuk temanmu menciptakan suasana yang tepat.
  • "Aku tetap ada buat kamu.": Banyak Muslim baru takut kehilangan teman dan keluarga. Mendengar bahwa kamu tidak akan pergi sangat berarti baginya.
  • "Aku ingin tahu lebih banyak tentang arti semua ini buat kamu.": Ini menunjukkan ketertarikan yang tulus tanpa menghakimi. Ini juga membiarkan dia bercerita sesuai kecepatannya sendiri, tanpa merasa diinterogasi.
  • "Ada yang perlu aku tahu supaya bisa jadi teman yang baik buat kamu sekarang?" Ini salah satu pertanyaan paling penuh perhatian yang bisa kamu ajukan. Ini menunjukkan bahwa kamu peduli untuk melakukannya dengan benar.

Cara Praktis untuk Mendukungnya

Selain kata-kata, ada hal-hal nyata yang bisa kamu lakukan supaya temanmu merasa didukung dan dihormati.

Perhatikan Kebutuhan Makanannya yang Baru

Muslim makan makanan halal dan menghindari babi dan alkohol. Saat mengajak temanmu makan malam, pilih restoran yang punya pilihan halal atau tanyakan apa yang cocok untuknya. Tidak perlu dibesar-besarkan. Cukup tanya, sesuaikan, lalu lanjut. Kalau kamu menjamu di rumah, satu pesan singkat untuk menanyakan makanan yang dia bisa makan sudah cukup. Usaha kecil ini menunjukkan bahwa kamu menghormati pilihannya.

Jangan Tersinggung dengan Waktu Sholatnya

Muslim sholat lima kali sehari, dan waktu-waktu sholat itu tersebar sepanjang hari. Kalau temanmu pamit sebentar untuk sholat saat kalian sedang nongkrong, jangan tersinggung atau membuatnya merasa canggung. Cukup bilang "santai saja". Sholat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup barunya, dan menjadikannya hal biasa dalam pertemanan kalian menghilangkan satu sumber kecemasan baginya.

Sesuaikan Rencana Bersama dengan Bijak

Kalau dulu pertemanan kalian berpusat pada kegiatan yang sekarang tidak lagi dia ikuti (misalnya pergi ke bar), ambil inisiatif untuk mengusulkan rencana lain. Kafe, mendaki, nonton film bareng, masak bersama, atau sekadar nongkrong di rumah, semuanya pilihan yang bagus. Kamu tidak harus mengubah gaya hidupmu sendiri, tapi menunjukkan bahwa kalian tetap bisa menikmati kebersamaan tanpa alkohol atau hal lain yang sudah dia tinggalkan memberi tahu dia bahwa pertemanan kalian memang tidak pernah soal kegiatan itu.

Bela Dia Saat Dia Tidak Ada

Sayangnya, temanmu mungkin menghadapi reaksi yang tidak paham atau bahkan memusuhi dari orang lain: keluarga besar, rekan kerja, atau teman bersama. Salah satu hal paling berarti yang bisa kamu lakukan sebagai teman adalah membelanya saat dia tidak ada. Luruskan salah paham, lawan prasangka, dan tegaskan bahwa temanmu layak dihormati. Kesetiaan di belakang layar seperti ini sangat berarti.

Memahami Ibadah Barunya

Kamu tidak perlu menjadi ahli Islam, tapi memahami beberapa dasar akan membantumu menjadi teman yang lebih baik.

  • Sholat: Lima sholat wajib setiap hari di waktu-waktu tertentu. Setiap sholat butuh sekitar lima sampai sepuluh menit. Temanmu mungkin perlu pamit sebentar beberapa kali dalam sehari.
  • Puasa (Shaum): Selama Ramadan (bulan kesembilan dalam kalender Islam), Muslim berpuasa dari fajar sampai matahari terbenam. Temanmu tidak akan makan atau minum di siang hari selama sekitar sebulan. Mendukungnya selama Ramadan, misalnya dengan ikut berbuka puasa bersamanya saat matahari terbenam, adalah sikap yang indah.
  • Hijab: Sebagian Muslimah memilih memakai kerudung. Kalau temanmu mulai berhijab, perlakukan seperti pilihan pribadi lainnya. Jangan terus memperhatikannya atau membahasnya berulang-ulang.
  • Perubahan makanan: Tidak makan babi, tidak minum alkohol, dan dagingnya harus halal (disembelih sesuai tuntunan Islam). Ini mudah disesuaikan setelah kamu tahu.
  • Sholat Jumat: Banyak Muslim menghadiri sholat berjamaah setiap Jumat sekitar tengah hari. Temanmu mungkin perlu menyesuaikan jadwalnya untuk ini.

Bersabar dengan Perubahannya

Masuk Islam bukan perubahan dalam semalam. Temanmu sedang mempelajari cara hidup yang benar-benar baru: sholat dalam bahasa yang mungkin tidak dia kuasai, kebiasaan makan yang baru, batasan pergaulan yang baru, dan cara pandang spiritual yang baru. Akan ada masa penyesuaian, dan mungkin tidak selalu mulus. Di bulan-bulan awal dia mungkin terlihat sangat fokus pada iman barunya, dan itu wajar. Dia sedang membangun pondasi.

Sebagian pertemanan melewati masa peralihan yang canggung setelah seseorang masuk Islam. Pola lama berubah, dan kalian berdua sedang mencari tahu seperti apa pertemanan kalian sekarang. Itu normal. Beri waktu. Pertemanan kalian tidak berakhir, tapi sedang berkembang. Dan pertemanan yang bertahan melewati perubahan besar dalam hidup sering justru menjadi lebih kuat.

Tidak apa-apa juga kalau kamu sendiri merasa kehilangan. Kalau dulu pertemanan kalian berputar di sekitar kegiatan tertentu yang tidak lagi dia lakukan, wajar kalau kamu merasa sedih kehilangan versi hubungan itu. Hanya saja, usahakan jangan melimpahkan kesedihan itu kepadanya sebagai rasa bersalah. Dia tidak menolakmu. Dia sedang bertumbuh, dan dia ingin kamu ikut bertumbuh bersamanya.

Kekhawatiran yang Sering Dirasakan Teman dan Keluarga

Kalau kamu punya kekhawatiran, kamu tidak sendirian. Berikut beberapa kekhawatiran yang sering muncul, dan pandangan jujur tentang masing-masing.

  • "Apa dia sudah terpapar paham radikal?" Masuk Islam bukan tanda radikalisasi. Sebagian besar mualaf tertarik pada Islam karena ajaran spiritualnya tentang keesaan Allah, sholat, dan kebersamaan. Kalau temanmu terlihat bahagia, tenang, dan stabil, percayalah pada apa yang kamu lihat.
  • "Apa dia akan mencoba mengajakku masuk Islam?" Mungkin tidak. Kebanyakan Muslim baru fokus pada proses belajarnya sendiri dan tidak tertarik menekan orang lain. Kalau dia menceritakan apa yang sedang dia pelajari, biasanya itu karena dia sedang bersemangat, bukan karena sedang merekrut.
  • "Apa pertemanan kami akan bertahan?" Tentu bisa, dan peluangnya lebih besar kalau kamu menghadapinya dengan terbuka dan saling menghormati. Inti diri temanmu tidak berubah. Dia hanya menemukan cara pandang baru untuk memahami hidup dan tempatnya di dalamnya.
  • "Apa kata orang nanti?" Wajar kalau kamu khawatir dengan pandangan orang lain. Tapi temanmu butuh kamu lebih mengutamakan hubungan kalian daripada apa kata orang. Jadilah teman yang tetap hadir.

Pertemanan yang Dia Butuhkan Saat Ini

Masuk Islam bisa menjadi salah satu pengalaman paling sepi yang dialami seseorang, bukan karena imannya membuat terasing, tapi karena dampak sosialnya bisa berat. Sebagian mualaf kehilangan teman. Sebagian mengalami hubungan keluarga yang renggang. Sebagian menghadapi prasangka dari orang asing. Di tengah semua itu, satu teman setia yang berkata "Aku tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku ada buat kamu" bisa menjadi penyelamat.

Kamu tidak harus setuju dengan keyakinannya. Kamu tidak harus memahami segala hal tentang Islam. Kamu cukup hadir, menghormati pilihannya, dan membuatnya tahu bahwa pertemananmu tidak bersyarat, tidak menuntut dia tetap sama.

Kalau temanmu masih mempelajari dasar-dasar iman barunya, Revertly adalah aplikasi yang dirancang khusus untuk Muslim baru. Aplikasi ini mengajarkan sholat langkah demi langkah dan memberi jalan yang lembut dan terarah bagi orang yang baru memulai. Kalau temanmu merasa kewalahan dengan semua yang harus dia pelajari, mungkin ini sumber yang bisa kamu sarankan. Kamu juga bisa mengirimkan panduan kami tentang apa yang dilakukan setelah bersyahadat.

Belajar sholat, langkah demi langkah

Revertly membawa Muslim baru dari wudhu sampai sholat yang lengkap dalam tujuh hari.

Baca juga