Cara Memberi Tahu Keluarga bahwa Kamu Sudah Menjadi Muslim
Memberi tahu keluarga bahwa kamu masuk Islam adalah salah satu percakapan tersulit bagi seorang mualaf. Ini cara mempersiapkannya, apa yang dikatakan, apa yang bisa terjadi, dan kapan lebih bijak untuk menunggu.
Oleh Benjamin · · 4 menit baca
Bagi banyak mualaf, syahadat justru bagian yang mudah. Memberi tahu orang-orang yang membesarkanmu jauh lebih berat. Kamu menyayangi mereka, dan kamu akan menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak mereka pahami.
Tidak ada naskah yang sempurna. Tetapi ada cara supaya percakapannya berjalan lebih baik.
Pertama, apakah aman untuk memberi tahu mereka?
Mulailah dari sini, sebelum hal lainnya.
Bagi kebanyakan orang, memberi tahu keluarga menimbulkan kebingungan, kekhawatiran, mungkin beberapa minggu yang berat. Itu menyakitkan, tetapi bukan bahaya. Bagi sebagian orang, itu bahaya. Kalau kamu punya alasan untuk percaya bahwa memberi tahu keluargamu bisa berujung pada kekerasan, ancaman, diusir tanpa tempat tujuan, dipaksa melakukan sesuatu, atau kehilangan akses ke anak-anakmu, kamu tidak harus memberi tahu mereka sekarang.
Islam tidak memintamu membahayakan diri demi sebuah pengumuman. Imanmu adalah urusan antara kamu dan Allah. Kamu bisa sholat diam-diam, belajar diam-diam, dan membangun hidupmu sehingga saat kamu memberi tahu mereka nanti, kamu sudah aman dan mandiri.
Kalau kamu dalam bahaya sekarang, hubungi nomor darurat setempat. Kalau usiamu di bawah 18 tahun dan kamu khawatir, bicaralah dengan orang dewasa yang kamu percayai di sekolah, petugas kesehatan sekolah, atau layanan pengaduan anak dan remaja di negaramu.
Kuatkan pijakanmu dulu
Kalau kamu aman, tetap ada baiknya menunggu sebentar. Beberapa minggu sholat, mempelajari dasar-dasarnya, dan memahami kenapa kamu membuat pilihan ini akan membuat percakapannya lebih tenang. Keluargamu akan bertanya. Kamu tidak perlu tahu semua jawabannya, tetapi sebaiknya kamu bisa menjelaskan dengan kata-katamu sendiri apa arti Islam bagimu.
Ada yang memberi tahu keluarganya di hari pertama. Ada yang menunggu setahun. Tidak ada yang salah.
Pikirkan apa yang mereka takutkan
Kebanyakan reaksi keluarga berasal dari rasa takut, bukan kebencian. Ketakutan yang umum di antaranya:
- “Kami kehilangan kamu.”
- “Kamu ditekan atau dimanipulasi seseorang.”
- “Kamu tidak akan datang lagi saat Natal, ulang tahun, dan makan malam keluarga.”
- “Ini berbahaya atau ekstrem.”
- “Kamu menolak cara kami membesarkanmu.”
Kalau kamu tahu ketakutan mana yang paling kuat di keluargamu, kamu bisa menjawabnya bahkan sebelum mereka mengucapkannya.
Cara menjalani percakapannya
Pilih orangnya dan waktunya
Banyak mualaf memberi tahu satu orang dulu, anggota keluarga yang paling terbuka, lalu meminta bantuannya untuk yang lain. Pilih waktu yang tenang. Bukan saat makan malam hari raya. Bukan lewat pesan singkat kalau bisa dihindari.
Awali dengan apa yang tidak berubah
Misalnya seperti ini:
“Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting, karena aku sayang kalian dan aku tidak mau menyembunyikan apa pun. Aku sudah menjadi Muslim. Aku memutuskannya sendiri, setelah waktu yang cukup lama. Aku tetap aku, dan aku tetap ingin dekat dengan kalian.”
Lalu berhenti dan biarkan mereka bereaksi. Jangan isi keheningan dengan ceramah tentang teologi.
Jawab pertanyaan dengan jujur dan singkat
Kalau ada yang tidak kamu tahu, katakan saja. “Aku masih mempelajari soal itu” adalah jawaban yang sangat baik. Kamu bisa menawarkan untuk bicara lagi nanti.
Jangan mencoba mengajak mereka masuk Islam di percakapan yang sama
Ini tentang memberi tahu mereka siapa dirimu, bukan tentang mengubah siapa mereka. Kalau nanti mereka penasaran, mereka akan bertanya.
Apa yang bisa terjadi sesudahnya
Reaksi berubah seiring waktu. Reaksi pertama jarang menjadi reaksi terakhir. Orang tua yang menangis di hari pertama kadang malah membelikanmu sajadah setahun kemudian. Sebagian keluarga tetap dingin dalam waktu yang lama. Kebanyakan berada di antara keduanya.
Beri mereka waktu. Kamu butuh berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk sampai di sini. Mereka menerimanya dalam satu percakapan.
Keluargamu tetap penting dalam Islam
Menjadi Muslim tidak berarti meninggalkan keluargamu. Islam sangat menekankan berbuat baik kepada orang tua, termasuk orang tua yang bukan Muslim. Al-Quran mengatakan bahwa meskipun orang tua memaksamu mempersekutukan Allah, kamu tidak menaati mereka dalam hal itu, tetapi kamu tetap “pergauli keduanya di dunia dengan baik” (Quran 31:15).
Ketika Asma, putri Abu Bakar, bertanya kepada Nabi ﷺ apakah ia sebaiknya tetap menjaga hubungan baik dengan ibunya yang bukan Muslim, beliau menjawab ya (Sahih al-Bukhari 2620).
Dalam praktiknya: tetaplah hadir. Berkunjunglah. Bantu mencuci piring. Telepon saat ulang tahun. Akhlak baikmu selama bertahun-tahun ke depan akan berbicara lebih banyak daripada apa pun yang kamu katakan di percakapan pertama.
Hal-hal praktis yang membantu
- Makanan: jelaskan bahwa kamu tidak makan babi atau minum alkohol, dan tawarkan untuk membawa satu hidangan ke acara makan keluarga. Buat suasananya tetap santai.
- Hari raya: ulama berbeda pendapat tentang sejauh mana kamu boleh ikut dalam hari raya non-Muslim. Banyak mualaf tetap datang ke acara keluarga untuk bertemu orang-orang yang mereka sayangi, tanpa ikut dalam bagian keagamaannya. Tanyakan kepada imammu di mana batasnya untukmu.
- Sholat di rumah mereka: minta ruangan yang tenang. Kebanyakan keluarga menyesuaikan diri lebih cepat dari yang kamu kira setelah melihat bahwa itu hanya lima menit yang tenang.
- Beri mereka bacaan: satu bacaan singkat yang ramah lebih berguna daripada setumpuk buku. Tulisan kami tentang cara mendukung orang yang baru masuk Islam ditulis dengan memikirkan keluarga dan teman.
Temukan orang yang pernah mengalaminya
Kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Mualaf lain sudah pernah menjalani percakapan ini, dalam hampir semua versinya. Tanyakan di masjidmu apakah ada kelompok Muslim baru, atau cari di internet. Mendengar bagaimana orang lain menghadapinya lebih membantu daripada artikel mana pun.
Kalau untuk sementara kamu menyimpan keimananmu sendiri, Revertly tidak punya akun dan tidak mengumpulkan data, jadi tidak ada yang terhubung dengan namamu. Kamu bisa belajar sholat sesuai kecepatanmu.
Belajar sholat, langkah demi langkah
Revertly membawa Muslim baru dari wudhu sampai sholat yang lengkap dalam tujuh hari.